Langsung ke konten utama

Konsumen Mendang Mending, Benarkah mereka golongan yang marginal



Berdasarkan data dan riset pasar, tidak ada angka persentase tunggal yang secara spesifik mengukur "konsumen mendang mending." Istilah ini lebih merupakan gambaran dari perilaku, bukan kategori resmi.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa mayoritas konsumen Indonesia memiliki mentalitas "mendang mending" atau pragmatis. Bahkan, mentalitas ini adalah salah satu faktor dominan yang membentuk keputusan pembelian di pasar.

Menurut riset pasar dari perusahaan seperti Nielsen, Kantar, dan berbagai lembaga survei lokal:

  • Lebih dari 50% Konsumen Indonesia Sensitif Harga: Sebagian besar konsumen aktif membandingkan harga, mencari diskon, dan mempertimbangkan nilai (kualitas vs. harga) sebelum membeli.

  • Generasi Muda Sangat Pragmatis: Generasi Z dan Milenial, yang merupakan target utama layanan digital, dikenal sangat cermat dalam membelanjakan uang mereka. Mereka akan melakukan riset mendalam di internet dan membandingkan ulasan sebelum membuat keputusan.

  • Perilaku Ini Meluas ke Semua Kategori: Mentalitas "mendang mending" tidak hanya berlaku untuk produk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga merambah ke layanan, pendidikan, dan bahkan investasi. Mereka akan membandingkan berbagai platform untuk memastikan mereka mendapatkan akses terbaik dengan biaya terendah.

Jadi, daripada sebuah kategori kecil, mentalitas "mendang mending" ini adalah cerminan dari mayoritas konsumen di pasar Indonesia saat ini.

Tidak sepenuhnya benar jika produsen menganggap konsumen "mendang mending" sebagai kelompok marginal. Justru sebaliknya, dalam pasar modern, kelompok ini adalah pasar utama yang paling diperhitungkan.

Mengapa pandangan lama itu tidak lagi relevan?


  1.  Bukan Marginal, tapi Mayoritas

Seperti yang kita bahas sebelumnya, mentalitas "mendang mending" ada pada mayoritas konsumen di Indonesia, terutama dari kalangan generasi muda yang aktif berbelanja. Produsen yang mengabaikan mereka sama saja dengan mengabaikan pangsa pasar terbesar dan mengalihkan peluang bisnis ke kompetitor yang lebih cerdas.

  1. Kekuatan Volume Mengalahkan Margin

Meskipun konsumen "mendang mending" mungkin tidak membeli produk dengan margin keuntungan yang sangat tinggi, jumlah mereka sangat besar. Laba yang dihasilkan dari volume penjualan yang masif ini bisa jauh lebih besar daripada laba dari produk premium yang hanya dibeli oleh segelintir orang. Model bisnis seperti Shopee, Netflix, atau Spotify dibangun di atas premis ini: untung kecil dari banyak orang, bukan untung besar dari sedikit orang.

  1. Konsumen yang Cerdas dan Berdaya

Di era digital, konsumen "mendang mending" bukan lagi konsumen yang buta. Mereka aktif mencari informasi, membandingkan ulasan, dan tahu di mana mendapatkan nilai terbaik. Produsen tidak bisa lagi hanya mengandalkan harga murah, tetapi harus menawarkan kombinasi antara kualitas, fungsi, dan harga yang sebanding. Mereka adalah konsumen yang paling menuntut dan paling setia jika kepuasannya terpenuhi.

Pada akhirnya, produsen yang berhasil adalah mereka yang mampu berinovasi untuk memenuhi kebutuhan konsumen "mendang mending." Mereka yang masih menganggap kelompok ini marginal justru akan tergerus oleh persaingan di pasar.

Menghadirkan produk untuk konsumen "mendang mending" bukanlah perkara mudah. Kelompok ini bukan hanya mencari harga murah, melainkan perpaduan optimal antara harga, kualitas, dan fitur.

Berikut adalah beberapa kesulitan yang dihadapi produsen:

1. Keterbatasan Margin Keuntungan

Karena harga produk harus terjangkau, margin keuntungan per unit menjadi sangat kecil. Produsen harus mengandalkan volume penjualan yang sangat besar untuk bisa meraih laba yang signifikan. Ini menuntut efisiensi di setiap aspek, mulai dari rantai pasok, produksi, hingga distribusi. Sedikit saja kesalahan dalam manajemen biaya bisa menggerus seluruh keuntungan.

2. Menjaga Kualitas Tanpa Menaikkan Harga

Ini adalah tantangan terbesar. Konsumen "mendang mending" sangat sadar akan kualitas. Mereka akan membandingkan fitur, material, dan daya tahan produk. Produsen tidak bisa sembarangan memangkas kualitas untuk menekan harga. Jika kualitasnya buruk, ulasan negatif di internet akan menyebar dengan cepat dan menghancurkan reputasi merek.

3. Inovasi yang Cepat dan Relevan

Kelompok ini sangat melek teknologi dan informasi. Mereka tahu produk apa yang terbaru dan fitur apa yang sedang tren. Produsen dituntut untuk terus berinovasi dan merilis produk dengan fitur terbaru, tetapi tetap harus menjaga harga agar terjangkau. Ini menciptakan tekanan konstan untuk melakukan riset dan pengembangan yang efisien dan efektif.

Pada akhirnya, melayani konsumen "mendang mending" memaksa produsen untuk menjadi sangat gesit, efisien, dan inovatif. Hanya perusahaan yang mampu menyeimbangkan tiga faktor ini—biaya rendah, kualitas baik, dan fitur relevan—yang bisa bertahan dan sukses di pasar ini.

Itu adalah kesimpulan yang logis jika kita menganggap "mendang mending" sebagai produk yang tanggung atau di tengah-tengah. Namun, dalam konteks saat ini, pemahaman produsen terhadap konsumen "mendang mending" tidak sesederhana itu.

Sebenarnya, produsen tidak menghindari kelas ini. Mereka justru berupaya keras untuk menguasainya.


Perbedaan "Tanggung" dan "Mendang Mending"

  • Produk Tanggung: Ini adalah produk yang "terjebak di tengah." Harganya tidak murah, tetapi fitur dan kualitasnya tidak istimewa. Produk ini biasanya tidak laku karena tidak menawarkan nilai lebih dan mudah dikalahkan oleh kompetitor. Ini adalah strategi yang buruk.

  • Produk "Mendang Mending": Ini adalah produk yang dirancang secara cerdas untuk memberikan nilai terbaik pada titik harga tertentu. Produk ini bisa jadi bukan yang termurah atau termahal, tetapi perpaduan antara harga, kualitas, dan fitur-fiturnya sangat optimal, sehingga konsumen merasa itu adalah pilihan terbaik.

Contohnya, produsen smartphone seperti Xiaomi atau Vivo sukses besar karena mereka jago di kelas "mendang mending." Mereka tidak menciptakan produk yang tanggung, melainkan produk yang menawarkan fitur-fitur kelas atas dengan harga yang sangat terjangkau.

Bahkan produsen high-end seperti Apple pun ikut bermain di kelas ini dengan merilis produk seperti iPhone SE, yang bertujuan untuk menarik konsumen yang mencari produk dengan "mendang mending" dari merek premium.

Jadi, produsen tidak menghindari kelas ini. Justru sebaliknya, mereka menganggap ini adalah medan pertempuran utama. Mereka yang berhasil di sini akan memenangkan pasar yang besar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilu 2024 Baru Saja Usai

Pesta demokrasi rakyat Indonesia baru saja dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Pada tanggal 14 Februari 2024. Berdasarkan data quick count pemenangnya adalah paslon nomor urut 2.  Banyak yang menarik dari perhelatan pesta demokrasi 5 tahunan ini. Pada saat ini ada salah satu paslon menggunakan gaya kampanya yang berbeda. Yaitu sebuah acara dialog, antara paslon dan peserta. Disitu terjadi interaksi yang sangat bagus. Pemaparan visi dan misi dapat dijelaskan dengan gamblang. Acara ini tidak pernah sepi pesertanya. Diselenggarakan sebanyak 22 kali hampir seluruh pulau.  Kenapa penulis menganggap kampanye model seperti ini bagus. Karena kita dapat mengetahui seberapa pahamnya paslon akan visi dan misi yang akan dijalankan bila mereka terpilih. Ini sungguh menggugah kaum muda. Efek ini sungguh sangat dashyat karena k-popers yang kebanyakan adalah gen z. Tergugah untuk berpartisipasi. Dan acara kampanye ditutup dengan kampanye akbar. Disini juga s...

Keyboard wireless

Kemajuan tehnologi yang begitu pesat, menjadikan banyak hardware yang tercipta, Selain makin beragam hardwar yang tercipta dari sisi haga juga sangat terjangkau. Dahulu untuk memiliki hardware yang wireless kita harus merogoh kocek yang sangat dalam, Namun kini dengan harga jauh dibawah harga dahulu kita sudah bisa mendapatkan gadget yang mumpuni. Penulis baru saja membeli keyboard wireless yang dulu hanya bisa bermimpi memilikinya. Kini penulis bisa membeli keyboard dengan kualitas bagus namun harganya hanya dua ratus ribuan saja. Awalnya penulis ragu untuk membelinya karena mana mungkin kualitasnya akan bagus bila harganya bisa semurah itu.  Keyboard yang penulis beli adalah merk Altec Lansing ALBK6266. Merk Altec lansing dahulu saya kenal memproduksi speaker aktif. Dengan harga yang murah naum suaranya sangat bagus. Dan ini yang menyebabkan penulis ingin membeli keyboard ini karena merk Altec Lansing. Berasa de javu juga ketika barang sudah sampai, selain merk y...

Menjelang Pensiun

Usia produktif yang dulu kita pelajari di saat sekolah adalah usia 18 s.d 50 tahun. Kenapa disebut usia produktif. Karena di rentang usia tersebut, biasanya manusia sedang giat giatnya mencari nafkah. Dengan kondisi fisik yang masih prima, kreatifitas juga masih meledak ledak. Sehingga rentang usia produktif ini sangat menentukan kehebatan suatu bangsa. Sedangkan usia diatas 50 dengan kondisi yang semakin menurun. tentunya usia ini tidak lagi menjadi tulang punggung perusahaan. Diusia seperti itu biasanya mulai membuncah pikiran tentang arti kehidupan selama ini. Apakah semua yang telah ia capai selama ini adalah segalanya? Apakah hidup hanya sebatas pekerjaan dan pencapaian karier? Ia merasa perlu mencari makna hidup yang lebih dalam, menjelajahi sisi-sisi kehidupan yang belum pernah ia sentuh. Namun bagi yang masih memiliki tanggungan, usia menjelang pensiun. Justru harus membuat troboosan agar tetap bisa menghasilkan pendapatan. Agar tanggung jawab sebagai orang tua tetap harus bisa...